Adrianus Mooy, From the Island of Rote Telling His Story
Dari Rote, pulau kecil di NTT yang nyaris tak tampak di peta dunia, Adrianus Mooy memulai perjalanan hidupnya yang sarat dengan keberuntungan. Ia manusia langka yang beruntung secara terus-menerus. Tak pernah melamar pekerjaan tapi dilamar pekerjaan, bahkan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengangkatnya sebagai Wakil Sekjen PBB di ESCAP, Bangkok usai ia menjadi salah seorang perancang utama Repelita di Bappenas, Gubernur Bank Indonesia ke-9 dan Duta Besar Republik Indonesia di Brusseis untuk Masyarakat Eropa. Bahkan sampai urusan jodoh dan pernikahan pun semuanya disediakan yang terbaik baginya.
Ada dua peristiwa yang sulit ia lupakan. Pertama, ketika Tuhan mengatur sedemikian rupa sehingga ia tak bisa menyelesaikan program Ph.D di Amerika sebelum tahun 1965. Andaikan saja ia menyelesaikan sebelum 1965 dan langsung kembali ke Jogyakarta, maka mungkin ia terkena dampak G30S, karena beberapa temannya yang pulang lebih dulu ke Universitas Gajah Mada dan bergabung dengan Himpunan Sarjana Indonesia ternyata ditangkap dan hilang sampai hari ini.
Kedua, masa jabatanya sebagai Gubernur Bank Indonesia hanya lima tahun karena tidak diperpanjang. Andaikan saja diperpanjang, mungkin ia termasuk tiga Gubernur BI yang terkena dampak krisis moneter 1997/1998; dua diantaranya dijebloskan ke penjara. Prof. Mooy percaya bahwa inilah cara Tuhan membentenginya dengan double protection untuk menghindarkan dirinya dari malapetaka.
Ia membangun keluarga harmonis yang sukses dan mengikuti nilai-nilai budaya dan keimanan yang diwariskan oleh almarhum ayah dan ibunya di Rote, yang mengajarkan tentang pentingnya hidup dengan mengandalkan Tuhan dan memelihara semua pemberian Tuhan. Ia mengajarkan tentang pengembangan talenta semaksimal mungkin dan membiarkan Tuhan menggenapkannya.
Do your best and let God do the best. Itulah sepenggal nasihat keteladanan Prof. Mooy yang patut diikuti.
Melewati usia 80 tahun, Prof. Mooy masih aktif bekerja di berbagai organisasi sambil membagikan cerita hidupnya.
Di atas semua cerita keberhasilan dan keberuntungan itu, ia mengakui bahwa semua ini bukanlah karena kekuatan dan kemampuannya tetapi karena anugerah dari Tuhan yang menyampaikan cerita-Nya melalui pengalaman hidup seorang Adrianus Mooy.
Itulah sebabnya otobiografi ini ia beri judul: ADRIANUS MOOY from the Island of Rote: Telling HIS Story
Pitan Daslani
Tersingkap, Rahasia di Masa Orde Baru
Otobiografi Prof. Adrianus Mooy, M.Sc., Ph.D.
Prof. Widjojo Nitisastro heran mengapa Prof. Adrianus Mooy tidak diperpanjang masa jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia setelah periode 1988-1993. Gubernur BI yang jujur itu rupaya tidak memenuhi seluruh permintaan dari Cendana. Ia bahkan secara polos bertanya kepada Presiden Soeharto saat dipanggil, apakah benar bahwa Yayasan Pak Harto mampu mengembalikan dana pinjaman yang dikehendaki dari BI. Pak Harto rupanya tersinggung dengan pertanyaan gamblang dari Prof. Mooy. Dan saat itu juga Mensesneg Moerdiono menendang kaki Prof. Mooy dari bawah meja.
BPPC yang dikomandoi oleh Tommy Soeharto meminjam Rp500 miliar dari BI dan setelah itu Rp300 miliar lagi (setelah Prof. Mooy tak lagi di BI) tapi pinjaman total senilai Rp800 miliar itu tidak dikembalikan. Lha, kok bisa begitu?
Dalam kasus lain, Menteri Koperasi (saat itu) Bustanil Arifin membujuk Prof. Mooy agar BI meminjamkan "US$100 juta saja" kepada Dicky Iskandar Di Nata (anak mantunya) untuk menyelamatkan Bank Duta yang merugi $420 juta karena margin trading. Prof. Mooy langsung menolak permintaan ini sebab margin trading sama saja dengan perjudian. Itu pun "salah" dalam pandangan mereka yang rupanya ikut memengaruhi Pak Harto agar mencopot Prof. Mooy dari BI, mungkin saja karena dianggap kurang kooperatif dengan penguasa, walaupun Prof. Mooy bersikap bahwa BI harus berfungsi sebagai Bank Sentral yang independen.
Ada lagi kasus lain dimana kerabat keluarga Cendana berusaha menyiasati BI dengan cara memberikan iming-iming "dana titipan" dari luar negeri, padahal tujuannya adalah untuk mendapat penunjukan langsung dalam proyek migas yang katanya akan menggunakan teknologi horizontal drilling. Siasat ini akhirnya tersingkap.

1 komentar:
Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.
Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.
Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.
Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.
Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut
Posting Komentar